Ku ingin Sendiri,
Sendiri dalam dinginnya malam yang sunyi ini,
Menikmati indahnya setiap detik yang ku lalui,
Tanpa adanya beban yang menghantui.

Sepi memang,
Tapi ada Bulan yang begitu terang,
Dengan Senyumannya yang tipis,
Yang begitu manis.

Senyum mu yang tipis,
Seperti Kue Lapis,
Manis,
Apalagi kalau gratis.

Ku ingin bersamamu,
Melihatmu yang selalu ku rindu,
Menemanimu,
Hingga akhir waktu.

Bulan.

"Ini bukan masalah seberapa banyak orang yang menghargaimu, tapi tentang seberapa kamu bermanfaat membagikan apa yang bukan milikmu."

Ya.. Bulan itu memang tidak memiliki sinar sendiri, tetapi Ia memerlukan bantuan sinar Matahari agar Ia bisa terlihat. Menampakkan dirinya yang kadang orang lain menghiraukannya. Memilih untuk tidur dan istirahat daripada meluangkan waktunya untuk menikmati indahnya sinar Matahari pantulan dari Bulan.

Bulan tak sendiri, Ia ditemani jutaan Bintang yang selalu setia disampingnya selama semalaman. Keberadaannya disekeliling para Bintang, berbeda dengan Matahari yang sinarnya pun bisa mengalahkan jutaan Bintang yang ada disekitarnya. Yang kemunculan dan juga kepergiannya pun sering dinanti-nanti oleh banyak orang.

Tapi Bulan, hanya dengan senyuman tipisnya pun Aku langsung jatuh cinta padanya. Menginginkan setiap malamku ditemani olehnya hingga hari-hariku penuh dengan senyumannya. Memang Bulan bukan Bintang dan juga bukan Matahari. Tapi cinta tak perlu syarat untuk menjadikannya alasan!!

Emmm... Siapakah Bulan itu?